Bandar Lampung – Septi (40) pemilik UKM Tapis di Rajabasa, Bandar Lampung telah menjalankan usaha kerajinan sejak tahun 2009 lalu. Berawal dari membuat kerajinan seprah hidangan dengan modal Rp 40.000,- kini modalnya sudah ratusan juta rupiah.

Septi telah sering mengikuti pameran baik skala lokal maupun nasional, hingga produk kerajinan tapisnya dikenal luas. Produk yang cukup digemari masyarakat antara lain Tapis dan Sulam Usus. Tidak dikerjakan sendiri, Septi menggandeng 20 orang ibu-ibu dan remaja putri di sekitar rumahnya untuk mengerjakan usaha kerajinannya.

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan A. Djalil disela kunjungan kerjanya ke Lampung Tengah, berkesempatan mengunjungi tempat usaha Septi yang diberi nama Sanggar Wawai Galery, Jumat (08/03).

“Usaha ibu ini sangat prospektif, cantik sekali, ke depan mungkin bisa dibuat desain yang bisa digunakan dibanyak kesempatan, sehingga pasarnya semakin luas,” saran Sofyan A. Djalil.

Septi merupakan salah satu UKM binaan Kantor Pertanahan Kota Bandar Lampung. “Kami bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UKM, untuk mendapat informasi daftar UKM yang dapat diikutkan program sertipikasi, kemudian ditunjuklah Ibu Septi ini. Kala itu kami berikan sertipikat gratis melalui program UKM,” ujar Kepala Kantor Pertanahan Kota Bandar Lampung Ahmad Aminullah.

Baca juga  Apresiasi Pelaksanaan Program PTSL pada Acara Indonesia Award 2018

“BPN tidak hanya sekadar memberikan sertipikat, namun bagaimana sertipikat itu dapat menjadi multiplayer perekonomian. Penerimanya juga harus diperhatikan,” tambah Ahmad Aminullah.

“Saya terbantu sekali dengan program sertipikasi gratis BPN. Saat ini sertipikat saya masih sekolah di bank, untuk modal saya mengembangkan usaha ini, saya sungguh hitung benar biar bisa berputar terus,” ujar Septi.

Septi adalah satu di antara jutaan pemilik sertipikat tanah di Indonesia. Apabila langkah Septi untuk berusaha dan mengagunkan asetnya dengan perhitungan matang diikuti oleh banyak orang maka tingkat pengangguran tidak perlu dikhawatirkan. Karena akan banyak enterpreneur baru yang menyerap banyak tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian. (WN/GR)